PENGEMBANGAN KAMPUNG WISATA KERAMIK DINOYO UNTUK MENINGKATKAN KUNJUNGAN WISATAWAN
PKM-AI
Diusulkan oleh:
Nama : Alwin Lasarudin
NIM : 08540012
Angkatan : 2008
Jurusan : Usaha Perjalanan Wisata
PROGRAM DIII-DIV PARIWISATA
UNIVERSITAS MERDEKA
MALANG
2010
PENGESAHAN
1. Judul Kegiatan : Pengembangan Kampung Wisata Keramik Dinoyo
Untuk Meningkatan Kunjungan Wisatawan
2. Bidang Kegiatan : PKM-AI
3. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama : Alwin Lasarudin
b. NPK : 08540012
c. Jurusan : Usaha Perjalanan Wisata
d. Universitas : Universitas Merdeka Malang
e. Alamat dan No. Telp/Hp : Jl. Kendalsari No. 69. (08125277 1614)
f. E-mail : alwinlasarudin@yahoo.com
4. Anggota pelaksana Kegiatan/Penulis : 1 orang
5. Dosen Pendamping
a. Nama :
b. NIP :
c. Alamat dan No. Telp/Hp :
_________ __________
Menyetujui
Ketua Jurusan Ketua Pelaksana Kegiatan
(________________) (____________________)
NIP. NIM.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Dosen Pendamping
(________________) (______________________)
NIP. NIP.
ABSTRAK
Kota Malang adalah salah satu kota di Jawa Timur yang memiliki potensi pariwisata yang sangat menarik. Beberapa potensi pariwisata yang sedang dibangkitkan kota ini kepada wisatawan mancanegara dan wisata nusantara adalah wisata budaya berupa tari-tarian, adat istiadat, legenda cerita rakyat. Selain memiliki keunggulan dan daya pikat di sisi budaya, kota Malang juga memiliki objek wisata yang sangat dikenal yaitu bangunan sejarah peninggalan kolonial Belanda dan Candi-Candi peningggalan beberapa kerajaan di Indonesia khususnya di Malang Jawa Timur.
Wisata lain yang memilki daya tarik untuk wisatawan nusantara dan mancanegara adalah wisata budaya. Wisata ini menawarkan sisi kehidupan masyarakat setempat termasuk karya-kaya masyarakat setempat berupa seni.
Kekayaan peninggalan sejarah dan seni budaya Malang tersebut kini semakin kurang dikenal generasi muda karena informasi mengenai kekayaan peninggalan sejarah dan seni budaya itu semakin jarang terdengar di masyarakat.
Di era otonomi daerah ini, peluang untuk mengangkat kembali peninggalan sejarah dan seni-budaya Malang cukup luas. Namun untuk mencapai cita-cita itu, pemerintah daerah dan kalangan intelektual Malang harus memiliki komitmen yang tinggi memajukan objek wisata sejarah dan budaya, seperti Kampung Wisata Keramik Dinoyo di Kota Malang.
Keyword : Pariwisata, Kota Malang, Kampung Wisata Keramik Dinoyo, upaya pengembangan
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki obyek-obyek wisata yang sangat menarik antara lain: wisata alam, wisata buatan, wisata budaya sejarah dan wisata bahari, telah secara serius memperhatikan perkembangan sektor pariwisata. Perkembangan dunia wisata diharapkan akan berdampak pada peningkatan kunjungan wisatawan, hal ini perlu didukung dengan tersedianya fasilitas-fasilitas umum pendukung industri pariwisata, disamping dengan terus memperbaiki obyek dan daya tarik wisata yang akan ditawarkan. Kawasan wisata di Kota Malang sebagai asset pariwisata perlu diperhatikan. Penanganan yang professional atas asset pariwisata ini juga perlu ditingkatkan terutama perencanaan dan penataan yang berwawasan kesenian dan budaya. Agar obyek wisata dapat dimanfaatkan secara nyata diperlukan modal dan teknologi yang memadai, serta untuk menjaga kelestarianya diperlukan pengelolaan yang efektif agar tidak menimbulkan dampak yang negatif terhadap lingkungan kawasan dan sosial budaya masyarakat sekitar.
Pemanfaatan jasa lingkungan untuk kepentingan wisata kesenian, perlu memperhatikan prinsip-prinsip pengembangan obyek wisata alam yakni konservasi, edukasi, ekonomi, rekreasi dan peran / partisipasi masyarakat. Diharapkan dalam pengembangan obyek wisata tidak hanya melihat pada hasil jangka pendek, tetapi harus melihat pada kelangsungan jangka panjang sehingga perlu perencanaan dan dukungan yang matang tidak hanya dari swasta tapi juga pemerintah dan masyarakat.
Salah satu upaya pengembangan objek wisata adalah dengan memanfaatkan potensi objek wisata itu sendiri. Adapun untuk menemukan potensi objek wisata di suatu daerah orang harus mengacu pada apa yang dicari oleh wisatawan. Umum diketahui bahwa modal atraksi yang menarik kedatangan wisatawan itu ada tiga, yakni: alam, kebudayaan, dan manusia itu sendiri.
Yang perlu diperhatikan dalam pengembangan objek wisata adalah kemampuan untuk mendorong peningkatan kunjungan wisatawan baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara.
Beberapa objek wisata yang berada di Kota Malang antara lain yaitu: kampung wisata keramik Dinoyo yang dijadikan sebagai obyek penelitian.
Obyek wisata Keramik Dinoyo merupakan salah satu lokasi objek wisata Kerajinan khas Kota Malang yg cukup terkenal lainnya adalah Keramik di Kerajinan khas Kota Malang yg cukup terkenal lainnya adalah Keramik di jalan raya MT. Haryono, Dinoyo, Malang.
Karakter khas keramik Cendera Mata terletak pada warna dan desain natural. Bentuk dan fungsinya pun bervariasi, seperti vas bunga, tempat garam dan merica, tempat kartu nama, aneka suvenir, wadah aromaterapi, tempat lilin, dan lainnya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka dapat di tarik suatu rumusan masalah tentang “Pengembangan Kampung Wisata Keramik Dinoyo Untuk Meningkatan Kunjungan Wisatawan”.
C. Masalah pokok
Yang menjadi masalah pokok yaitu: apakah upaya pengembangan objek wisata dapat berpengaruh terhadap tingkat kunjungan wisatawan di Kampung Wisata Dinoyo Kota Malang
D. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan artikel ilmiah ini adalah sebagai berikut :
1. Melihat sejauh mana peran instansi pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan kunjungan wisatawan di Kota Malang tepatnya di Kampung Wisata Keramik Dinoyo.
2. Memperkenalkan kepada masyarakat secara keseluruhan bahwa Kampung Wisata Keramik Dinoyo adalah salah satu tujuan wisata yang harus dijaga kelestariannya dan dipertahankan secara berkelanjutan.
3. Dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kota Malang
E. Metode Penulisan
Adapun metode yang dilakukan untuk mendapatkan informasi maupun data-data dalam menyusun artikel ilmiah ini adalah :
a. Penelitian Perpustakaan
Suatu cara metode yang dilakukan dalam mengumpulkan data terlebih dahulu melalui buku-buku kepariwisataan dan buku yang berisikan informasi mengenai Kampung Wisata Keramik Dinoyo di Kota Malang, ditambah dengan brosur pariwisata Kota Malang yang berhubungan dalam pembuatan artikel ilmiah.
b. Penelitian Lapangan
Suatu cara atau metode yang dilakukan dengan cara langsung kelapangan, untuk mewawancarai langsung pihak-pihak yang penulis nilai dapat membantu dalam melengkapi isi artikel ilmiah ini.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Gambaran Umum Kampung Wisata Dinoyo
Lokasinya terletak di Jl. MT Haryono Kelurahan Dinoyo. Dekat dengan sarana dan prasarana umum namun prasarana transportasinya kurang memadai, lebar jalan yang kurang memenuhi syarat sebagai lokasi yang strategis, dan area parkir yang tidak memadai.
Tenaga kerja sebagian besar terdiri dari keluarga dan tetangga sekitar sehingga industri ini dapat memberikan dampak yang cukup signifikan dalam peningkatan perekonomian masyarakat setempat. Memiliki prospek yang cukup bagus untuk dikembangkan karena tidak hanya dipasarkan dalam kota saja, namun jaringan pemasarannya sudah mencapai luar kota, bahkan luar negeri.
Produk kerajinan keramik ini adalah aneka souvenir pernikahan, tempat air, dll. Teknologi yang digunakan masih sederhana, bahan baku mudah didapatkan. Kendala yang dihadapi adalah masalah permodalan (meliputi keuangan dan peralatan) dan pemasaran hasil produksi, serta peningkatan sarana jalan untuk peningkatan kenyamanan konsumen.
2. Sejarah Keramik Dinoyo
Ceramik Dinoyo Malang, telah dikenal sejak 50 tahun lalu. Hingga sekarang keramik berupa barang-barang gerabah dan peralatan dapur, dijadikan lahan usaha yang dikelola secara home industries oleh perajin asli Dinoyo Penanggungan dan masyarakat sekitarnya. Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi, pada 1953 Departemen Perindustrian membentuk Lembaga Penyelenggara Perusahaan-Perusahaan Industri (LEPPIN).
Hasilnya, pada 1962 berdiri Industri Keramik Unit Dinoyo II dengan produksi inti berupa barang-barang keramik yang dibakar dengan bahan bakar kayu pada suhu 800ºC – 900ºC. Bahan baku yang digunakan adalah koalin, kwarsa, veldspar dan ballclay. Hasil produksinya berupa moci, mangkok dan baki yang hanya merupakan produk setengah jadi. Produk tersebut dijual ke Induk Perusahaan Keramik untuk diglasir dan dibakar dengan suhu pembakaran 1.265ºC – 1.300ºC sehingga tercipta keramik porselin.
Masuk pasar global
Tujuh tahun kemudian (1969) Industri Keramik Unit Dinoyo II yang lebih dikenal dengan keramik “TANAH AGUNG” mulai meningkatkan Keramik Tanah Agung Dinoyo Capai Prestasi Keramik Dinoyo Malang, mampu cetak prestasi. Meski dikerjakan dalam skala home industries, namun pengelolaannya mengacu pada standar mutu tinggi. Proses pembuatan keramik: Dibakar pada suhu 800ºC – 900ºC usahanya dengan cara membuat tungku pemanas dengan bahan bakar solar. Sehingga mampu memproduksi keramik seperti cangkir, moci, baki atau mangkok, asbak, alat listrik (isolator) dan batu atau semen tahan api, dipasarkan sendiri di Jawa dan Bali.
Pada 1979, setelah mendapat bimbingan dan penyuluhan dari Departemen Perindustrian, terutama dibidang desain, Keramik Tanah Agung mampu mengembangkan usaha dengan meningkatkan produksinya berupa seni atau keramik hias seperti tempat duduk, tempat payung, guci, pot, vas, piring hias, keramik kontemporer, dan patung. Secara keseluruhan sentra keramik Dinoyo dapat menyerap tenaga kerja sekitar 330 orang dengan total produksi sebanyak 2.034 ton/tahun. Khusus untuk gerabah menyerap 80 tenaga kerja dengan kapasitas produksi 7.650.000 biji/tahun. Dalam perkembangannya, perajin keramik Dinoyo dan pedagang keramik telah membentuk Paguyuban untuk mengembangkan usaha dan menciptakan lingkungan perajin dan pedagang sebagai “Wisata Kerajinan Keramik Dinoyo”. Untuk kebutuhan pasar global, sentra keramik Dinoyo sedikitnya telah mendirikan 30 show-room yang terletak di sepanjang jalan raya MT. Haryono, Dinoyo, Malang.
Sedang Keramik Tanah Agung, pemasarannya selain di dalam juga keluar negeri. Tenaga yang terserap sebanyak 40 orang, terdiri dari 20 orang seniman lukis dan 20 orang tenaga terampil di bidang produksi. Sejak 1991, Keramik Tanah Agung mulai menggunakan tungku dengan bahan bakar Gas Elpiji. Berkat pretasinya dibidang managemen kualitas dan kuantitas produksi dengan pendayagunaan sumber daya manusia serta kepedulian akan lingkungan hidup, pada 1993, Keramik Tanah Agung mendapat Anugerah UPAKARTI dari Pemerintah. Beberapa prestasi lain yang telah diraih, pada 1995 sebagai Juara I - STEAM A Konvensi Gugus Kendali Mutu (GKM) tingkat Nasional ke VIII dari Departemen Perindustrian, Badan Pengembangan Industri Kecil yang dilaksanakan di Medan.
3. Sejarah Keramik Di Indonesia
Di Indonesia, keramik sudah dikenal sejak jaman Neolithikum, diperkirakan rentang waktunya mulai dari 2500 SM–1000 SM. Peninggalan zaman ini diperkirakan banyak dipengaruhi oleh para imigran dari Asia Tenggara berupa: pengetahuan tentang kelautan, pertanian dan peternakan. Alat-alat berupa gerabah dan alat pembuat pakaian kulit kayu. Kebutuhan manusia dalam kehidupan sehari-hari selalu mengalami perubahan sesuai perkembangan zaman. Awalnya manusia membuat alat bantu untuk kebutuhan hidupnya, mulai dari membuat kapak dari batu. Seperti di Sumatra ditemukan pecahan-pecahan periuk belanga di Bukit Kulit Kerang.
Meskipun pecahan tembikar tersebut kecil dan berkeping-keping namun telah terlihat adanya bukti nyata membuat wadah dari tanah liat. Teknik pembuatannya dilakukan dengan tangan, dan untuk memadatkan serta menghaluskan digunakan benda keras seperti papan.
Cara menghias dilakukan dengan menekankan sebuah kayu berukir, atau menekan tali, anyaman bambu, duri ikan, dan sebagainya, pada permukaan keramik (mentah) setelah selesai pembentukan. Cara seperti ini paling banyak dilakukan oleh perajin tradisional di berbagai daerah di pelosok tanah air. Di pantai selatan Jawa tepatnya diantara Yogyakarta dan Pacitan ditemukan pecahan tembikar yang berhiaskan teraan anyaman atau tenunan seperti hasil tenun yang di buat di Sumba. Di daerah Melolo (P. Sumba) ditemukan pula periuk belanga yang berisikan tulang-tulang manusia. Peninggalan-peninggalan prasejarah ini juga ditemukan didaerah Banyuwangi, Kelapa Dua-Bogor, Kalumpang serta Minanga di Sulawesi, Gilimanuk di Bali dan juga penemuan pada waktu peninggalan arkeologis di sekitar candi Borobudur dan di Trowulan-Mojokerto. Termasuk juga peninggalan zaman Kerajaan Majapahit (abad 16 M) banyak di temukan bata-bata dan genteng dari tanah liat yang dibakar sebagai bahan bangunan, namun juga benda-benda seperti celengan. Pecahan-pecahan tembikar juga ditemukan di situs Batujaya, di Karawang Jawa Barat. Ditemukan juga fragmen yang terbuat dari terracotta. Sesuai penandaan maka tembikar-tembikar ini ada pada abad ke 3 atau 4 masehi.
Gambar tembikar juga terdapat pada relief hiasan bangunan, dan patung-patung. Ini memberikan indikasi bahwa tradisi pembuatan benda keramik dengan teknologi sederhana telah lama berlangsung. Artefak lainnya di gambarkan pada relief candi Borobudur yang menunjukkan motif wanita yang sedang mengambil air dari kolam dengan periuk bulat dan kendi serta memasak dengan kuali. Sedangkan relief candi Prambanan dan candi Penataran (Blitar) melukiskan jambangan bunga dengan hiasan suluran dan bunga-bungaan. Peninggalan ini juga menggambarkan akan adanya kegiatan pembuatan keramik rakyat di pedesaan dan banyak hubungannya dengan penemuan kebutuhan akan wadah. Keramik rakyat ini dari zaman ke zaman berkembang secara evolusioner. Demikian pula dengan bentuk, teknik pengolahan maupun pembakarannya, pembakaran dilakukan hanya dengan menggunakan daun-daun atau ranting-ranting pohon yang telah kering. Mereka lebih banyak memikirkan peralatan yang ada hubungannya dengan rumah tangga. Untuk keperluan tersebut dibuatlah benda gerabah dari tanah liat kemudian dibentuk dan setelah kering dibakar dengan pembakaran sederhana.
Penemuan keramik merangsang kreativitas manusia untuk menciptakan berbagai macam benda keramik yang di buat dari bahan tersebut. Pada perkembangan selanjutnya berbagai faktor turut menentukan kemajuan keramik diberbagai daerah. Faktor-faktor tersebut mempengaruhi kemajuan keramik, mulai dari faktor keperluan hidup, persedian bahan baku sampai kemajuan teknik pembakaran. Dari faktor-faktor tersebut, faktor kebutuhan atau keperluan hidup yang merupakan pengaruh yang dominan, sebagai contoh: negeri China.
Secara pasti sangatlah sulit untuk dikatakan daerah mana yang mula-mula yang merupakan pusat perkembangan keramik di Indonesia. Dari segi teknik pembuatannya benda-benda keramik yang oleh para ahli sejarah disebut “paddle and anvil technique” atau teknik tatap batu, suatu teknik pembuatan keramik tradisional yang saat ini masih dipergunakan di daerah-dareah di Indonesia. Meninjau hasil karya keramik dari beberapa daerah di Indonesia sangat menarik karena terasa ada suatu karakteristik sangat khas yang menjiwai benda-benda tersebut. Daerah tersebut antara lain Kalimantan dengan keramik Singkawang yang menghasilkan guci-guci besar. Daerah ini menghasilkan benda keramik dengan teknologi pembakaran tinggi mulai abad XIX. Singkawang merupakan daerah migrasi orang-orang China Hokkian, yang banyak keahliannya membuat guci. Sementara masyarakat tradisional tetap melakukan aktivitas untuk membuat gerabah tradisional untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan kekuatan apa adanya.
4. Upaya Pengembangan Kampung Wisata Keramik Dinoyo Untuk Meningkatkan Kunjungan Wisatawan ke Kota Malang
Secara garis besar dalam bidang kepariwisataan bahwa pemerintah telah membuat suatu dasar pertimbangan dalam rangka mengupayakan pelestarian dan pengembangan kepariwisataan yang telah ditetapkan dalam GBHN, seperti pembinaan dan pengembangan pariwisata dalam negeri terus ditingkatkan untuk memperkenalkan objek-objek dan daya tarik wisata yang sekaligus dapat mengenal lingkungan alam dan budaya bangsa sendiri.
Dalam upaya pelestarian objek-objek wisata di kota Malang maka perlu adanya bantuan dari pihak masyarakat setempat maupun pihak-pihak pengembangan dan pelestarian objek-objek wisata tersebut.
Adapun upaya pelestarian yang dapat dilakukan adalah :
1) Perlu adanya perhatian khusus ke objek-objek wisata di Kota Malang, khususnya Kampung Wisata Keramik Dinoyo. Seperti perenovasian ulang apabila terjadi kerusakan.
2) Meningkatkan kerjasama dengan masyarakat setempat untuk menjaga dan melestarikan Kampung Wisata Keramik Dinoyo, dengan cara adanya kegiatan yang bersifat menghibur para pengunjung. Contohnya : mengajak para pengunjung berpartisipasi dalam membuat keramik dan memberikan fasilitas pelatihan pembuatan keramik kepada pengunjung.
3) Memberikan pengarahan kepada masyarakat setempat khususnya dan masyarakat Malang umunya, untuk meningkatkan sadar wisata di Kota Malang.
Upaya pelestarian ini dilakukan, agar potensi objek wisata di Kota Malang, khususnya Kampung Wisata Keramik Dinoyo tidak hilang begitu saja. Dengan adanya potensi objek wisata pada Kampung Wisata Keramik Dinoyo, maka kepariwisataan di kota Malang akan lebih berkembang dan tentu saja akan lebih dikenal oleh wisatawan domestik dan mancanegara.
Upaya adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mewujudkan keinginan hatinya. Segala usaha yang dilakukan dalam bentuk apapun itu disebut dengan upaya. Dalam pengembangan suatu objek wisata banyak sekali dilakukan upaya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus menambah devisa atau masukan buat pengelola dalam rangka pengembangan objek wisata itu sendiri.
Walaupun kadang upaya yang telah dilakukan itu belum berhasil namun tetap dilakukan terus, atau dibuat upaya yang baru lagi sampai upaya yang dilakukan bisa berhasil sehingga apa yang diinginkan seseorang tersebut dapat tercapai. Beberapa upaya atau usaha yang dilakukan oleh pengelola objek wisata untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan sekalian menambah devisa antara lain :
1) Meningkatkan kerjasama antara masyarakat setempat dan instansi pemerintah Kota Malang agar dapat mengembangkan Kampung Wisata Keramik Dinoyo dalam upaya meningkatkan kunjungan wisatawan di Kota Malang.
2) Melakukan sosialisasi dengan masyarakat setempat khususnya dan masyarakat Malang umumnya untuk menarik perhatian mereka dengan mendatangi Kampung Wisata Keramik Dinoyo.
3) Mengadakan pendekatan dengan seluruh Pemerintah di Indonesia, khususnya Dinas Pariwisata.
4) Melakukan promosi dan memasarkan Kampung Wisata Keramik Dinoyo sebagai objek wisata Kota Malang melalui media cetak dan elektronik.
5) Mengikuti pameran-pameran yang berhubungan dengan pariwisata, dimana dalam pameran ini pihak pengelola akan mempromosikan Kampung Wisata Keramik Dinoyo sebagai daerah tujuan wisata Kota Malang.
6) Memberi pengarahan kepada masyarakat Malang untuk meningkatkan sadar wisata, agar mereka mengetahui peran penting objek wisata tersebut bagi masyarakat dan pemerintah.
7) Membuat slogan yang berisikan himbauan dan larangan tertulis kepada pengunjung untuk peraturan yang ada.
8) Meningkatkan pelayanan, kebersihan dan keamanan di areal objek wisata.
9) Menyediakan tenaga pramuwisata yang bertugas untuk memberikan informasi mengenai Kampung Wisata Keramik Dinoyo.
10) Mengadakan kerjasama dengan travel agent, sehingga mereka akan membuat suatu rute perjalanan menuju Kampung Wisata Keramik Dinoyo di Kota Malang.
5. Hambatan-hambatan Dalam Upaya Pengembangan Kampung Wisata Dinoyo
Upaya pengembangan kepariwisataan tidak hanya terpaku pada pengembangan bangunan, fasilitas dan menjaga pelestarian tetapi juga pihak pengembangan melakukan dan meningkatkan agar menjaga kelestarian alam
Dalam upaya pengembangan Kampung Wisata Keramik Dinoyo di Kota Malang masih terdapat hambatan-hambatan dihadapi pelaksanaannya seperti :
1) Kurangnya perhatian pemerintah akan upaya pengembangan Kampung Wisata Dinoyo.
2) Kurangnya kesadaran dari para pemerintah akan keuntungan yang akan diperoleh dari upaya pengembangan Kampung Wisata Keramik tersebut.
3) Pemerintah kurang maksimal dalam mengembangkan objek wisata di Kota Malang khususnya Kampung Wisata Keramik Dinoyo.
4) Pemerintah kurang promosi dan memasarkan Kampung Wisata Keramik Dinoyo sebagai objek wisata di Kota Malang.
5) Tidak adanya dana atau bantuan dari pemerintah untuk pengembangan objek wisata ini.
PENUTUP
1. Kesimpulan
pariwisata merupakan suatu aset yang sangat menguntungkan bagi suatu daerah ataupun negara, yang merupakan suatu industri yang tidak menimbulkan polusi, namun memiliki pemasukan devisa yang sangat memajukan perekonomian ataupun pendapatan masyarakat suatu daerah atau suatu negara. Banyak negara yang bermodalkan keindahan serta keunikan budaya yang dimiliki yang menjadi suatu atraksi budaya yang dapat dipromosikan untuk dijual kepada para wisatawan yang juga merupakan salah satu usaha untuk mengembangkan dan melestarikan alam serta keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh suatu daerah atau negara.
Kota Malang merupakan salah satu daerah yang memilki potensi kepariwisataan yang dapat dikembangkan, seperti Kampung Wisata Keramik Dinoyo, objek wisata ini mempunyai potensi yang dapat memberikan manfaat dan harapan bagi pengembangan wisata di Kota Malang yang pada saat ini masih dalam proses memperkenalkan dan proses perencanaan pemasarannya.
Maka dari keseluruhan isi artikel ini, dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu :
1) Kampung Wisata Keramik Dinoyo yang berada di Jl. MT. Haryono, Malang merupakan tempat yang menarik bagi wisatawan untuk dijadikan daerah tujuan wisata Kota Malang.
2) Kampung Wisata Keramik Dinoyo adalah aset Kota Malang yang dapat menambah devisa untuk Kota Malang khususnya Indonesia umumnya.
3) Peran pemerintah dan Dinas Pariwisata Kota Malang adalah salah satu pendorong pengembangan Kampung Wisata Keramik Dinoyo, oleh karena itu peran pemerintah dan Dinas Pariwisata dalam pemerhatian dan juga pendanaan sangat dibutuhkan.
4) Kesadaran masyarakat Dinoyo khususnya, dan masyarakat Malang umumnya sangat dibutuhkan dalam upaya pengembangan Kampung Wisata Keramik Dinoyo.
5) Kampung Wisata Keramik Dinoyo sangat sederhana dan terkesan kurang menarik, hal ini disebabkan kurangnya dana untuk upaya pengembangan.
6) Arus kunjungan ke kota Malang selalu meningkat, sementara arus kunjungan ke objek wisata Kampung Wisata Keramik ini tidak meningkat.
7) Fasilitas yang terdapat pada Kampung Wisata Dinoyo kurang memadai hal ini disebabkan penyediaan dana yang terbatas.
8) Kurangnya kesadaran instansi pemerintah dan masyarakat di Kota Malang akan keuntungan yang akan diperoleh dari pengembangan Kampung Wisata Keramik tersebut.
2. Saran
Pembangunan yang dilaksanakan pemerintah saat ini memcakup beberapa sektor, salah satunya sektor pariwisata, atau lebih dikenal dengan industri pariwisata. Pembangunan dan pengembangan pariwisata sedang giat-giatnya dilaksanakan, karena sangat menunjang dalam pembangunan.
Melalui upaya pengembangan Kampung Wisata Keramik Dinoyo di Kota Malang diharapkan agar dapat dilaksanakan sebaik-baiknya. Karena upaya tersebut tidak sia-sia dan akan menghasilkan beberapa keuntungan seperti dapat menciptakan lapangan pekerjaan, meratakan pendapatan masyarakat, dan kesatuan bangsa.
DAFTAR PUSTAKA
(Sumber: Kriya Keramik, Depdiknas. Wahyu Gatot Budiyanto, dkk)http://www.studiokeramik.org/
Hadinoto, Kusudianto. 1986. Perencanaan Pengembangan Pariwisata, Jakarta : Universitas Sumatera Utara.
Suwartoro, Gamal. 1997. Dasar-Dasar Pariwisata, Yogyakarta: Adi Offset.
Yoeti, Oka, A. 1983. Pengantar Ilmu Pariwisata, Bandung : Angkasa.
Yoeti, Oka, A. 1996. Pemasaran Pariwisata, Bandung : Angkasa.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar